Sabar Bukan Pasrah, Menunda, ataupun Pasif: Memahami Makna Sabar dalam Perspektif Islam dan Kehidupan Modern

Bismillahirahmanirrahim,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat tersebut merupakan salah satu ayat yang paling sering menjadi penguat hati bagi setiap muslim ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan. Allah Swt. telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan di dunia bukanlah tempat yang bebas dari kesulitan. Sebaliknya, kehidupan merupakan tempat ujian yang akan dihadapi oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Bentuk ujian pun beragam, mulai dari rasa takut terhadap masa depan, kesulitan ekonomi, kehilangan orang-orang yang dicintai, hingga kegagalan dalam berbagai usaha yang telah dilakukan.

Aristoteles menjelaskan, sabar adalah kemampuan menanggung penderitaan dan kesulitan dengan sikap yang matang dan tenang. Definisi ini simple, akan tetapi membawa fakta yang amat luas. Penilaian mengenai sabar bukan hanya tentang penderitaan dan kesulitan. Tetapi juga berkaitan dengan kebahagiaan serta kebaikan.

Terkadang kita tidak sabar karena diri kita yang tidak tenang, batin kita yang marah-marah , tergesa-gesa, depresi, bahkan stress. Pada seharusnya kita tetap tenang dalam menghadapi suatu masalah.

Fenomena kurangnya kesabaran tidak sedikit kondisi seperti ini melanda generasi saat zaman sekarang. Perkembangan arus yang semakin pesat menjadikan zaman serba instan, serba cepat, sehingga menjadi anggapan bahwa lemah daya tahannya, kurang daya sabarnya.

Oleh karena itu, membangun kembali pemahaman tentang makna sabar menjadi sangat penting. Salah satu tokoh yang menjelaskan makna tersebut secara menarik adalah Fahruddin Faiz. Beliau menjelaskan bahwa masih banyak orang yang keliru memahami arti sabar sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari.

1.      Sabar tidak sama dengan pasrah

Dalam kehidupan sehari-hari kata sabar dan pasrah sering digunakan untuk mengacu pada satu sama lain. Akan tetapi pada dasarnya kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Pasrah Adalah sikap menerima tanpa adanya usaha (menyerah).dalam hal ini pasrah biasanya bersifat negatif. Sebab pasrah merupakan sifat yang dinilai mengabaikan kewajiban manusi untuk berusaha dan bertindak. Islam mengajarkan bahwa pasrah harus dilakukan dengan usaha. Misalnya, ketika seorang siswa mendapatkan nilai ujian jelek dan dia hanya pasrah tanpa ada usaha belajar untuk memperbaiki nilai.

Berbeda dengan sabar, yang artinya menerima keadaan sekarang tetapi tetap berharap dan berusaha agar keadaan bisa lebih baik. Misalnya, sabar ketika bisnis mengalami kegagalan. Dalam konteks ini mereka tetap konsisten membuat strategi yang baru tanpa berputus asa. Tidak hanya itu, pengendalian emosi juga termasuk sabar seperti menahan amarah atau merasa sedih berlarut-larut sehingga mereka dapat berpikir logis dan bijaksana dalam membuat keputusan.           

Ketika orang percaya bahwa pasrah adalah bagian dari sabar atau tawakkal mereka salah. Sebab pasrah yang benar dalam Islam adalah bagaimana kita tetap memiliki harapan dan terus berikhtiar.        

               

2.      Sabar tidak sama dengan menunda

Menunda berarti tindakan mengundurkan waktu pelaksanaan yang sudah dijadwal sebelumnya, yang akhirnya hanya menjadikan perkejaan kita menumpuk semakin banyak.

Kata ‘ besok saja’, ‘nanti saja’, ‘besok masih ada waktu’. Kalimat tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Seringkali kalimat tersebut terucap ketika aktivitas belajar, kerja, dan lain-lain.  Sifat menunda-nunda masih marak di kalangan remaja khusunya. Sifat ini dianggap tercela, Dimana sekali orang sudah menunda pekerjaan maka keesokan harinya diapun akan menunda lagi.

Imam al-Hasan al-Bashri pernah memberikan sebuah nasihat terkait sikap menunda-nunda sesuatu, beliau berkata, “Waspadalah kamu dengan sikap menunda-nunda. Kamu sekarang berada di hari ini dan bukan esok hari. Apabila hari esok tiba, kamu akan berada di hari tersebut dan sekarang kamu masih berada di hari ini. Jika hari esok tidak datang kepadamu, maka jangan sesali atas apa yang tidak kamu lakukan hari ini.”  

Nasihat tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui apakah ia masih diberikan kesempatan hidup pada hari berikutnya. Oleh karena itu, setiap kesempatan yang dimiliki hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan amal saleh, belajar, bekerja, maupun menyelesaikan berbagai tanggung jawab.

Orang yang sabar bukan berarti menunggu tanpa tindakan. Ia justru segera melakukan apa yang menjadi kewajibannya, kemudian bersabar menunggu hasil yang telah diusahakan. Ia memahami bahwa proses membutuhkan waktu, tetapi proses tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Dalam dunia pendidikan, misalnya, seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi harus disiplin mengerjakan setiap bab sesuai jadwal. Kesabaran diwujudkan dalam konsistensi menulis sedikit demi sedikit setiap hari, bukan dengan menunggu inspirasi datang sambil terus menunda pekerjaan.

 

3.      Sabar tidak sama dengan pasif

Pasif artinya diam, tidak melakukan apa-apa, kurang usaha, bahkan hanya berdiam diri. Sedangkan sabar dapat kita lihat bahwa mereka tetap aktif akan tetapi mereka sadar bahwa semua ada proses dan waktunya masing-masing.

Orang sabar tetap bekerja, bergerak, meskipun hasilnya tidak instan. Ketika ada hambatan mereka tidak langsung menyerah, mereka tetap berusaha dengan tenang hingga sampai pada tujuannya.

Demikian pula seorang pelajar yang ingin meraih prestasi. Ia tidak cukup hanya berdoa, tetapi juga harus belajar secara rutin, mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, berdiskusi dengan guru, serta terus berlatih mengerjakan soal. Hasil terbaik akan datang kepada mereka yang mampu memadukan usaha dan kesabaran.

Dalam kehidupan sosial, orang yang sabar juga tetap aktif memberikan manfaat bagi sesama. Ketika menghadapi kritik, ia tidak langsung marah. Ketika menemui kegagalan, ia tidak berhenti berkarya. Ia terus bergerak sambil memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

 

Dengan ini dapat kita pahami, bahwa kesabaran bukan hanya sebuah sikap batin, melainkan juga memiliki banyak hikmah dan manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sabar itu mengurangi stress. Sabar itu memperbaiki hubungan dengan sesama. Sabar itu meningkatkan produktivitas. Sabar itu meningkatkan ketahanan. Kesabaran meningkatkan ketahan kita dalam menghadapi masalah. Sabar membuat kita tidak mudah tumbang oleh cobaan.

Wallahua’lam…


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Renungan Rindu

sendu rindu

Orang Puasa Ada Tingkatannya? Berikut 3 Tingkatan Orang Berpuasa